Ketika Cinta Menghapus Masa Lalu: Romantisme Murni atau Sekadar Ilusi?

Avatar photo

- Redaksi

Jumat, 11 September 2026 - 16:01 WIB

google preferred source facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

google preferred source icon facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Moh. Aufani,

NusaMadura.Com, Di era media sosial, kutipan puitis sering kali dijadikan takarir (caption) andalan untuk melengkapi unggahan kemesraan. Salah satu yang paling menggugah adalah pernyataan sastrawan Mesir, Anis Mansour:

“Wanita yang saya cintai tidak memiliki masa lalu, dia lahir pada hari ketika saya mencintainya.”

​Gagasan bahwa cinta sejati mampu menyapu bersih masa lalu seseorang memang terdengar sebagai puncak keromantisan. Namun, di balik narasi yang membuai tersebut, benarkah menafikan sejarah hidup seseorang adalah wujud cinta yang agung, atau sekadar ilusi agar sebuah hubungan terasa lebih mulus?

​Sindrom Narasi Sinematik dalam Hubungan

​Dalam memandang sebuah ikatan asmara, kita sering kali mendambakan kisah yang sempurna. Layaknya sebuah video pre-wedding atau dokumentasi sinematik yang disunting dengan ketelitian tinggi, kita cenderung hanya ingin menonjolkan pencahayaan yang indah, sudut pengambilan gambar (angle) yang pas, dan momen bahagia yang terekam dengan estetik.
​Tanpa sadar, ada dorongan untuk memotong (edit out) segala kerumitan, kegagalan, atau “jejak kasar” dari masa lalu pasangan. Mengharapkan pasangan hadir sebagai kanvas kosong yang seolah lahir kembali adalah bentuk romantisme murni. Niat awalnya baik: menciptakan ruang aman dan melindungi hubungan dari bayang-bayang kelam masa lampau.

Baca Juga :  Bukan Sekadar Hoki: Trisula Sukses Anak Muda Menaklukkan Era Disrupsi

​Ilusi Membuang “Raw Footage” Kehidupan

​Akan tetapi, menjadikan cinta sebagai sarana amnesia sejarah pada akhirnya adalah sebuah ilusi. Manusia bukanlah karya visual yang bisa disunting sedemikian rupa dengan sekadar membuang raw footage (rekaman mentah) yang dirasa kurang menyenangkan.

​Masa lalu seseorang beserta trauma, patah hati, hingga kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan adalah fondasi esensial yang merakit kedewasaan dan karakternya hari ini. Memilih untuk sepenuhnya menutup mata terhadap masa lalu sama halnya dengan mencintai sebuah karakter fiksi yang kita proyeksikan, bukan mencintai manusia yang utuh dan nyata.

Baca Juga :  Kritik terhadap Fetisisme Budaya Instan Generasi Muda

Merangkul Masa Lalu sebagai Bentuk Kedewasaan.

​Romantisme yang kokoh di dunia nyata justru lahir dari keberanian untuk menerima keseluruhan cerita. Ini bukan berarti membenarkan atau meromantisasi kesalahan masa lalu, melainkan memilih agar sejarah tersebut tidak lagi mendikte arah masa depan hubungan.

​Kekuatan cinta yang sesungguhnya tidak diukur dari kemampuannya untuk mengabaikan sejarah, tetapi pada kapasitas hati kita untuk merangkul keseluruhan proses pembentukan diri pasangan, dan memutuskannya untuk melangkah maju bersama.

 

 

​Penulis: Aufan Mohammad
Editor: Tim Redaksi NusaMadura

Berita Terkait

Bukan Sekadar Hoki: Trisula Sukses Anak Muda Menaklukkan Era Disrupsi
Kritik terhadap Fetisisme Budaya Instan Generasi Muda

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊


Berita Terkait

Jumat, 11 September 2026 - 19:50 WIB

Bukan Sekadar Hoki: Trisula Sukses Anak Muda Menaklukkan Era Disrupsi

Jumat, 11 September 2026 - 16:01 WIB

Ketika Cinta Menghapus Masa Lalu: Romantisme Murni atau Sekadar Ilusi?

Minggu, 6 September 2026 - 15:45 WIB

Kritik terhadap Fetisisme Budaya Instan Generasi Muda

Berita Terbaru

Opini

Kritik terhadap Fetisisme Budaya Instan Generasi Muda

Minggu, 6 Sep 2026 - 15:45 WIB